Dipapari Musik, Sel-sel Telur dalam Bayi Tabung Lebih Sukses Dibuahi

Jakarta, Musik tak hanya dapat meredakan stres dan bersifat menenangkan, tapi musik juga memberikan manfaat lainnya yang tak terduga sebelumnya. Baru-baru ini sebuah studi menemukan bahwa musik dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung.

Sekelompok peneliti dari Spanyol ini percaya satu sel telur dalam laboratorium IVF alias bayi tabung yang terpapar vibrasi atau getaran kecil dari musik dapat meningkatkan peluangnya untuk dibuahi sebesar lima persen.

Peneliti menduga vibrasi tersebut dapat mempermudah masuknya nutrisi ke dalam sel telur dan mempercepat pemindahan limbah racun di dalamnya, sehingga meningkatkan peluang sel tersebut untuk mengalami pembuahan dan embrionya bisa bertahan hidup lebih lama.

Uniknya, meski antara satu manusia dengan manusia yang lain mempunyai selera musik yang berbeda-beda, nyatanya embrio tidaklah pilih-pilih. Menurut peneliti, apapun genrenya, entah itu pop, klasik, bahkan heavy metal, semuanya berdampak positif bagi si embrio. Temuan ini disampaikan peneliti dalam pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology di London baru-baru ini.

Bagaimana peneliti membuktikannya? Tim peneliti yang berasal dari klinik kesuburan Marques Institute di Barcelona ini menyuntikkan sperma ke dalam sekitar 1.000 sel telur dan menempatkan mereka di dalam inkubator.

Kemudian peneliti meletakkan sejumlah iPod di luar separuh inkubator dan memutarkan beberapa lagu pop milik Michael Jackson dan Madonna, lagu rock milik Nirvana dan Metallica, serta lagu klasik gubahan Bach, Mozart dan Vivaldi.

Saat dicek, peneliti menemukan bahwa tingkat pembuahan terjadi lebih tinggi pada inkubator yang dipasangi iPod.

"Ketika kami bekerja di laboratorium IVF, kami mencoba meniru kondisi di dalam rahim, termasuk dalam hal pencahayaan dan suhunya. Sebelumnya sudah ada yang pernah mengamati pengaruh cahaya terhadap keberhasilan IVF, tapi belum pernah ada yang mempelajari efek suara," tandas peneliti Carolina Castello seperti dilansir Daily Mail, Minggu (14/7/2013).

Namun Dr Castello tahu jika embrio tidak punya kemampuan untuk mendengar selama sedikitnya 14 minggu. Oleh karena itu ia menduga vibrasi yang dihasilkan oleh musiklah kuncinya.

Menanggapi studi ini, Dagan Wells, seorang pakar kesuburan dari Oxford University mengatakan meski gagasan ini terdengar aneh, tapi tampaknya ada penjelasan ilmiahnya.

"Embrio yang dihasilkan menggunakan IVF tidaklah bergerak selincah embrio yang dihasilkan secara alami, yang bergerak menuruni tuba falopi, bergoyang-goyang menuju rahimnya.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa embrio menghadapi lingkungan yang sangat dinamis, dan hal itu ternyata memberikan keuntungan tersendiri, terutama untuk menyingkirkan produk limbah," terang Wells.

"Sedangkan vibrasi yang ditimbulkan dari musik bisa jadi merangsang efek yang sama. Bahkan beberapa pakar berspekulasi bahwa musik techno, dengan dentuman bass-nya adalah musik yang terbaik untuk mengiringi proses ini," tutupnya.